Disubmit :
46 hari 23 jam 34 menit lalu
Menjadi Terpilih : 46 hari 9 jam 7 menit lalu
Liat profil
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa hampir dalam setiap pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) ditanah air baik di tingkat Kabupaten/Kota maupun Provinsi, berbagai bentuk konflik dan tindak kekerasan baik dalam skala besar maupun kecil selalu terjadi. Kondisi tersebut sekaligus menjadi cermin bahwa kehidupan politik sangat kental dengan perilaku atau tindak kekerasan. Sementara beberapa persoalan dominant yang sering melahirkan konflik dan tindak kekerasan dalam pilkada adalah pada saat menghadapi tahapan-tahapan pilkada.
kontribusi dari
andrews
Komentar
pilkada memang adalah ajang bagi masyarakat untuk bisa memilih pemimpinnya, dan masyarakat sekarang aku pikir sudah cerdas dalam menentukan pilihan, tidak hanya asal mencoblos tanpa memikirkan masa depan, jangan mau dimanfaatkan untuk kepentingan sesaat elit politik, pilihlah yang terbaik.
yang jadi masalah adalah pelaku politik dan ekonomi di Indonesia itu ga ada pembatas yang jelas, Pelaku politik dalam kehidupan berdemokrasi di Indonesia bisa dibilang non-existen (tidak ada) karena pelakunya memperlakukan politik sebagai komoditi ekonominya alias cari duit. Pelaku politik selayaknya memisahkan kegiatan berpolitik dengan bisnis secara absolut, hitam dengan putih yang tidak boleh dicampur2.
Kalau demokrasi masih bisa dibeli dengan uang, memperoleh kekuasaan dengan kekerasan itu namanya bukan berpolitik.
kekerasan memang ibaratnya telah menjadi bumbu penyedap dalam event politik seperti pikada, apalagi jika calonnnya kalah dengan cara yang tidak sah, maka konflik horizontal yang hebat, maka dari itu dari pemerintah dan aparat setempat bisa lebih bijak dan pintar dalam mensiasati berbagai kemungkinan yang bisa terjadi.
pilkada, hari ini Jawa Timur sedang sibuk dalam menggelar hajatan besar dalam bidang politik, mereka sedang mencoblos yang terbaik diantara putra terbaiknya, kita doakan saja lancar dan terpilih yang benar-benar baik dan berkomitmen untuk memajukan rakyat Jawa Timur.
kekerasan terjadi karena faktor internal dan eksternal. Internal masyarakat artinya mereka belum bisa 100% menghargai demokrasi - maunya masih menang sendiri. Eksternal masyarakat artinya dari sisi calonnya sendiri, juga tidak menghargai demokrasi dan memaksakan kehendaknya sendiri untuk menang dengan cara-cara curang. Ini memancing kerusuhan.
percuma dulu demokrasi susah payah kita perjuangkan jika ujung-ujungnya akan seperti ini
konsep siap kalah dan siap menang belum benar-bear diresapi oleh sebagian besar rakyat indonesia
pilkada tanpa kekerasan seperti masakan tanpa garam, hambar!!!
terlalu banyak uanga dan harga diri yang dipertaruhkan dalam pilkada hingga orang sering menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya
terang aja, sudah banyak yang dikorbankan nggak afdol kalau nggak bikin onar.
konflik pilkada banyak terjadi di wilayah indonesia timur dan tengah,ini menunjukkan bahwa masyarakat di sana belum bisa dewasa dalam berpolitik
DEWASA? semuanya belum dewasa menurutku kawan, lihat saja tingkah para politikus lita yang tidak ada bedanya dengan tingkah anak TK.
pada pilkada pemilihan gubernur dan wakil gubernur jawa timur semoga manjadi jawaban bahwa kita sudah benar - benar dewasa kawan!
cukup menarik juga tantangannya, ok kita lihat saja kalau begitu!!
dunia politik itu terdapat bermacam - macam warna didalamnya, sampai bingung juga harus dimengerti dari mana dulu.
simple aja, politik itu nggak ada yang bersih dari sononya.
elite politik di daerah dan di pusat tidak bisa memberikan contoh yang baik sehingga para pendukungnyapun jadi ikut-ikutan arogan
untung saja pilkada di jawa timur kemarin berlangsung dengan aman dan damai
buat apa kita susah2 berantem gara-gara pilkada,paling2 jika jagoan kita menang dia juga lupa sama kita
menag kalah dalam suatu kompetisi adalah hal yang wajar,yang penting kita harus belajar bersikap dewasa untuk menyikapi kekelahan dan kemenangan itu
apa yang terjadi di maluku utara adalah cermin semakin trunnya kredibilitas pemerintah pusat di mata rakyatnya
dimanapun dan kapanpun kekuasaan selalu direbut dengan darah dan air mata
enakan jaman dulu,gak perlu ada pilkada biar aja dibilang anti demokrasi yang penting kehidupan aman dan tentram
demokrasi menurut pengertian orang kita menurut penilaianku selama ini adalah mereka malah bertindak brutal dan cenderung mengarah kepada tindakan kekerasan.
buat apa kita bertengkar untuk orang yang belum tentu mau peduli dengan nasib kita
pada pilkada jatim ini kita masing - masing bisa menilai tentang situasi serta respon masyarakat terhadap pilkada itu sendiri.
cukup semarak dan semangatnya sangat menggebu - nggebu, baik itu semangat dari para kandidat ataupun masyarakat jatim itu sendiri.
semoga kasus yang terjadi di maluku utara tidak ikut menyebar di daerah lain di indonesia
aku rasa untuk pilkada jatim cukup tertib dibandingkan dengan pilkada pada yang lainnya.
kelapangan dada dalam menerima hasil itu yang penting serta sikap saling manjaga dan memaknai arti dari kata demokrasi itu sendiri.
kenap kita mesti melakukan kekerasan, kalau damai masih bisa kita lakukan kawan!
sebagai antisipasi dalam melaksanakan pilkada dan sebagai ajang ukur menjelang pilpires 2009 nanti.
segalanya dilakukan hanya untuk jabatan serta harta.