Disubmit :
99 hari 21 jam 42 menit lalu
Menjadi Terpilih : 98 hari 5 jam 8 menit lalu
Liat profil
KEPALA Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas II A Wanita, Hj Entin Martini BcIP, SH merupakan salah seorang yang dekat dengan terpidana mati Sumiarsih. Bagaimana hari-hari Entin melihat Sumiarsih setelah grasinya ditolak presiden dan dikabarkan segera dihadapkan regu tembak?
Kemarin siang, Entin menemui wartawan dengan ekspresi haru. Sambil menggengam sebuah jilbab warna merah muda, dia menceritakan baru saja mendapat tandamata dari Sumiarsih.
‘’Bu Sumiarsih memberi tandamata jilbab ini kepada saya,’’ ucap Entin sembari menunjukan jilbab yang dipegangnya itu. Jilbab itu diberikan disalah satu ruangan di dalam area lapas.
Saat memberikannya, juga membuat Entin haru. Sumiarsih menyerahkannya sambil mengatakan ingin mencium Entin. ‘’Tadi dia bilang, saya (Sumiarsih) mau cium ibu. Sambil cium pipi kiri dan kanan saya, dia serahkan jilbab,’’ ucap ibu dua anak ini.
Tandamata dari Sumiarsih itu sangat berharga. Soalnya, itu bukan hasil kerajinan tangan yang dihasilkan Sumiarsih selama ditahan di LP wanita Sukun sejak 1993 lalu. Sumiarsih berusaha mendapatkan jilbab dengan memesan pada keluarganya. ‘’Dia minta pada keluarganya supaya membawa jilbab,’’ ucapnya.
Entin diberi tandamata jilbab, karena Sumiarsih menilai dia sebagai orang yang sangat perhatian pada toleransi beragama dalam LP. Entin pernah berbicara didepan Sumiarsih dan sejumlah warga binaan penganut Kristiani saat perayaan Natal. ‘’Waktu itu saya beri pengarahaan sebagai kepala lapas,’’ ucapnya.
Kedekatan Entin dengan Sumiarsih juga terlihat sehari sebelumnya saat bertemu wartawan. Kala itu, Entin duduk bersebelahan dengan Sumiarsih, seolah tak ada sekat yang menghalangi.
Mantan Kabid Pembinaan LP Kelas I Sukamiskin, Bandung ini mengenal Sumirasih sejak awal bertugas sebagai Kalapas LP wanita Sukun, Juli 2007 lalu. ‘’Saat mengenal dia, saya melihat dia baik. Dia sopan, sabar dan tidak pernah ada masalah,’’ terang wanita berjilbab ini.
Sejak menghuni LP wanita Sukun, 1993 lalu, Sumiarsih memang tidak pernah membuat keonaran dalam LP. Ini dibuktikan juga dengan tidak adanya catatan dalam buku register F. ‘’Buku register F merupakan buku catatan tentang warga binaan yang melakukan pelanggaran,’’ jelas wanita murah senyum ini.
Dalam kehidupan bermasyarakat di dalam penjara, Sumirasih juga terkenal karena kesantunannya. Karena itu, selain umurnya yang sepuh dan karena sikapnya yang baik, dia dihormati.
Entin juga mengamati keseharian Sumiarsih. Karena itu, tidaklah heran bila ditanya tentang keseharian warga binaannya itu dia langsung menyebut dengan lancar dan detail.
‘’Sejak bangun pagi, dia langsung mandi, sarapan kemudian berdoa dalam kamarnya. Setelah itu langsung memulai hari dengan membuat kerajinan tangan,’’ katanya.
Tidak hanya itu saja, Entin juga mengetahui kehidupan lain Sumiarsih seperti mengelola kebun. Di sekitar blok V, tempat Sumiarsih menjalani hukumannya, Entin melihat dia merawat tanaman mangga, pepaya dan berbagai jenis tanaman lain. (vandri van battu) (vandri/malangpost)
kontribusi dari
yumma
Komentar
kasihan juga melihat terpidana mati yang satu ini,usahanya untuk berubah menjadi orang yang lebih baik tidak mendapat respon dari pemerintah
buat ibu sumiarsih,semoga anda tetap selalu berada dalm kesabaran,percayalah Tuhan telah merencanakan sesuatu yang terbaik bagi kehidupan Anda
padahal dia sudah bertobat dan menyesali perbuatannya,kenapa dia tidak diberikan kesempatan
ya ini resiko dan buah dari perbuatan yang harus di petik oleh orang ini.
kasihan juga ngeliatnya, tapi ini hukuman setimpal yang harus ia terima.
sumiarsih memang pembunuh,tapi apa sebutan yang pantas untuk pemerintah yang menjatuhkan vonis mati baginya
ya seperti tibo, terpidana mati kasusu kerusuhan poso.
tidak beda jauh juga dengan tibo, semakin dekat semakin memprihatinkan juga nasib para terpidana mati ini.
sumiarsih adalah potret wajah buram hukum di indonesia,bayangkan sejak tahun 1993 dia harus berdebar-debar menanti kapan jatuhnya eksekusi padanya
apapun yang terjadi di masa lalu memang harus membuat kita berubah menjadi lebih baik dan menjadi lebih bijak
ingat akan kematian memang bisa membuat orang selalu berbuat baik pada orang lain dan lingkungannya
manusia jika sudah dekat dengan maut memang ya seperti itu,penyesalannya selalu dirasakan sangat mendalam
ibu sumiarsih begitu inginnya memberikan kesan yang mendalam pada orang-orang yang akan ditinggalkannya
semoga setelah sumiarsih dieksekusi bisa membarikan pelajaran bagi orang lain agar lebih hati-hati dalam berbuat
bagaimana rasnya jika hari kematian kita sudah ditentukan,entah pikiran apa yang akan berkecamuk di kepala kita
melihat sikapnya selama di LP sebenarnya orang ini tidak memiliki bakat sebagai penjahat,mungkin keadaan di masa lalu lah yang menyebabkan dia harus menjadi pembunuh
sekarang bari inget Tuhan,dulu waktu ngrencanain memnbunuh,Tuhan ditaruh dimana Bu?
Inilah pertaubatan yang sangat berharga bagi pelaku narapidana karena mereka ternyata selalu ingat dengan yang maha kuasa
untuk melebur dosa yang pernah ia lakukan semasa hidup,dan biar ingat bkepada allah SWT.
ini sebuah renungan bagi semua yang akan mengalami ajal kematian.
Klo mendengar dari kisah sumiarsih memang teriris hati ini.Tapi apalah daya,dia dan bahkan kita sebenarnya berada dalam rimba hukum yang serba gelap.Koruptor yang mencuri dan membunuh banyak orang Cuma diberi hukuman ringan