Melihat cover di atas, penggemar film akan kecewa bila ingin nonton, karena Final Fantasy VIII memang dibuat tidak untuk film. Terlebih bila kebetulan mendengarkan lagu “Eyes On Me” yang dibawakan oleh Faye Wong, semakin penasaran ingin tahu kehebatan Final Fantasy VIII. Apa sebenarnya yang terjadi dengan dunia film, apakah sudah demikian terkalahkan oleh dunia game?
Image Hosted by ImageShack.us
Melihat gambar potongan “game” diatas, dan pertanyaan yang tak terjawabkan tentang ceritanya, benar2 meyakinkan bahwa ada yang salah dengan dunia film. Justru sebenarnya dunia film berkembang dengan cepat, penggemarnya yang seperti sayalah yang ketinggalan mengikuti perkembangannya. Role playing game dengan nama Final Fantasy VIII telah dirilis tahun 1999, tahun berikutnya ketika tahu, yang sangat menarik malah lagunya, “Eyes On Me”. Seperti lagu2 theme song lainnya, “Eyes On Me” sangat kuat pada intonasi harmoni mayor minor, dengan bahasa awam “nada miring”.
Menyanyikan lagu ini, memahami syairnya, sebenarnya semakin kuat terbayang cerita Final Fantasy VIII yang tentu saja romantis.
Image Hosted by ImageShack.usHironobu Sakaguchi, eksekutif produser “permainan” ini ternyata tidak main2, terbukti dengan berani menunjuk Faye Wong menyanyikan lagu “Eyes On Me”. Faye Wong adalah penyanyi China, penulis lagu, aktris, dan model. dia adalah ikon populer di China, Taiwan, Hongkong, Singapore, Malaysia, Jepang dan di dunia barat. Aduuuh . . . Indonesia kemana ya . . . kok gak disebut oleh wikipedia, hlah paling tidak anda beruntung tahu Faye Wong disini. Bagaimanapun wikipedia telah berusaha menjelaskan Final Fantasy VIII kepada orang Indonesia, walaupun tetap saja sulit memahami alur ceritanya yang lintas ruang dan waktu itu. Adalah Rinoa Heartilly, si gadis penyihir jelata, yang cinta mati pada Squall Leonhart, yang meniti karier sebagai serdadu. Namanya juga game bukan film, kita terima saja penggunaan sihir itu dengan wajar, karena Rinoa diputuskan dalam rapat pleno FF VIII sebagai gadis yang harus tampil sederhana, senjatanyapun hanya sihir! “Eyes On Me” demikian romantis sebagai curahan isi hati Rinoa terlebih ketika menghadapi kenyataan, Squall, lelaki terkasihnya menderita amnesia akibat perselisihan yang sangat tidak perlu dengan teman sesama serdadunya. “Eyes On Me” juga tiba2 berirama waltZ, mengiringi Rinoa-Squall menari, sebagai terapi penyembuhan amnesia Squall.
Image Hosted by ImageShack.us
Ya, Rinoa, gadis yang cintanya mengalahkan ruang dan waktu dimana Squall berada! How can I let you know, I’m more than the dress and the voice, kelihatannya sebuah pernyataan dan pertanyaan yang bodoh, tapi bukankah Squall dalam kondisi amnesia?! Bila anda seorang gadis yang lagi renggang dengan kekasih, terbayangkah menggunakan asumsi romantisme Rinoa ini, menganggap “dia” dalam kondisi amnesia? Paling tidak bisa cerita pada anak cucu kelak, bahwa kisah cinta anda tidak kalah dengan Role playing game, Final Fantasy VIII yang fenomenal itu. Walaupun “resiko” selalu saja ada.
Image Hosted by ImageShack.usDunia game memang fenomenal, tidak hanya terhadap dunia film, tetapi juga kepada anak2 mbeling maniak game! Merekalah prototip konsumen game Sony PlayStation yang tidak akan memahami romantisme Eyes On Me! Si Adix, Chandra dengan mbeling langsung melompati kakaknya nge“game” di blognya, kuliahnyapun memilih bahasa agar lebih lancar memahami game yang banyak berbahasa Inggris dan Jepang itu. Ini mungkin alasan kenapa Siwi dan Nentris lebih menyukai Chandra daripada Tito yang dokter hewan dan komikus ituh! Urusan fenomenal, memang Tito biangnya, diawali membuat animasi dengan AdiXnya sebagai obyek! Pertanyaan yang masih membingungkan orang tuanya, apakah ketika memilih kuliah kedokteran hewan sudah bisa membedakan “animasi” dengan “animal” :P
Eyes On Me
kontribusi dari
hitammanis
Komentar